Semangat menyambut bulan suci ramadhan begitu menggebu-gebu. Ada yang berkeliling dengan arak-arakan obor, pawai bedug dan lain sebagainya. Tapi kini, ketika sudah memasuki hari kedelapan seolah semangat itu mulai menciut.
Kenapa seolah semangat itu hanya ada di awal-awal saja, dan makin kesini malah makin lemah. Jika kita umpamakan, hal seperti ini mirip hape. Berarti saat ini batrenya sudah mualai ngedrop. Makanya butuh carger supaya batrenya terisi kembali, dan bisa optimal lagi.
Ada apa dengan semangat keramadhanan ini? Apakah karena semangat ramadhan yang dibangun sejatinya hanya seremonial belaka, atau hanya sekedar ikut-ikutan saja? Sehingga esensi menyambut ramadhan itu sejatinya nol besar.
Lalu, pesta menyambut ramadhan itu fungsinya untuk apa? Apakah ada hungungan dengan menjalani aktivitas di bulan ramadhan. Jika iya, kok makin kesini yang tarawih semakin kosong? Malah tidak seramai ketika ikut pawai obor dan arak bedug?
Mari kita sama-sama introspeksi diri. Ramadhan sudah memasuki hari kedelapan, tapi kok jamaah semakin sepi? Kok yang tadarus tak seramai ketika awal-awal ramadhan? Sekali lagi mari kita carger lagi semangat itu biar kembali semangat.
Ketika rasa malas itu datang, maka harus dilawan. Buat motivasi yang besar, jika perlu kita anggap ini adalah ramadhan terakhir kita. Sebab kita tidak tahu jika ramadhan tahun depan bisa merasakannya lagi. Ini terkesan ekstrim? Iya gak apa-apa! Asal semangat itu tetap terjaga.
Atau, ketika malas itu tiba? Ingatkah akan amalan apa yang sudah kita perbuat di bulan ramadhan ini. Sudah maksimal ataukah belum. Jika belum maksimal, tuk diperbanyak. Mungpung bulan ramadhan, rugi kalo ibadahnya hanya yang standar-standar saja. Amalan yang sunah semuanya dikerjakan, dan tak ada yang satu pun terlewatkan. Nah, ini baru keren coy..
Intinya, yuk pupuk terus semangat beribadah dari awal ramadhan, tengah, hingga akhir ramadhan. Semoga bisa istiqamah. Amiin.

0 komentar:
Posting Komentar