Anak Kecil

Sewaktu di kereta api arus mudik dari Jogja ke Jakarta, banyak hal istimewa untuk dilewatkan. Karena kelas keretanya ekonomi yang murah dan apa adanya, maka penumpangnya variatif.

Misalnya saja, ada ibu gendong bayi yang masih hitungan bulan. Lalu ada ibu dengan membawa dua anak kecil sekaligus, perempuan semua dan bedanya mungkin sekitar satu tahun lebih sedikit.

Ada anak kecil yang mundar-mandir dari ujung gerbong ke ujung gerbong lagi. Mungkin si anak lagi nyari petualangan kali ya. Ada anak yang duduk dan tidur mulu, sambil switernya dipake rapi dan topinya ditutup ke muka. Sepertinya dia ngantuk berat.

Lain lagi anak yang di sebelah sana, makan dan minumnya gak berhenti. Ngemil terus, mulai dari makanan ringan sampe makanan berat. Padahal puasa ya, apa ortunya gak ngajarin kali ya.

Melimpahnya jumlah anak di Indonesia dari berbagai macam usia, merupakan pertumbuhan yang patut diapresiasi. Sebab, jika tengok ke negara seperti Jepang dan China, mereka sedang mengalami kerisis anak.

Bahkan kini, kebijakan satu keluarga cuma satu anak, telah dicabut dan diberi kebebasan. Tetapi, tetap saja mereka terbentur dengan biaya hidup yang tinggi. Jika punya anak banyak, mereka khawatir tidak akan mampu membiayainya.

Di Indonesia, keyakinan bahwa yang menjamin rizki itu Allah, maka tak ada rasa takut untuk ngatur kehidupan anak. Selama masih bisa produksi, ya jalan terus. Keyakinan seperti ini yang tidak dimiliki negara lain. Konsep kepasrahan manusia Indonesia luar biasa.

Hanya saja, dalam hal-hal lain, kepasrahan tersebut tidak diterapkan dengan baik. Sehingga ujungnya salah kaprah. Misalnya, berbuat atau bekerja sebaik mungkin setelah itu barulah berpasrah. Jangan pasrah saja, usaha atau ikhtiar maksimalnya tidak mau.

#CatatanMudik, 14/06/18


Google Plus
    Komentar Lewat Blog
    Komentar Lewat Facebook

0 komentar:

Posting Komentar